Melody 5 - Still . . .

Aku rasa Rika butuh istirahat lebih banyak. Kasihan Rika, aku harap setelah ini, pihak sekolah mulai mempertimbangkan untuk lebih sering membersihkan tiap sudut fasilitas umum yang ada disekolah ini. Sudah ada satu korban tidak bersalah yang terkena imbas kurang menjaganya fasilitas bersama oleh lingkungan sosial.

"Aline, aku ingin bangun. . " Rika menggenggam tanganku kuat,

"Nanti saja, kamu butuh istirahat yang cukup saat ini." Ku coba berikan pengertian yang cukup masuk akal, menimbang ia masih memegang kepalanya yang lebam.

"Obat ku ada ditas. . .dadaku sesak. . ." nafasnya mulai terengah. Obat ! itulah yang diinginkan Rika saat ini.

Melody 4 - The Footprints of miracle

Semua ruangan ekstra kulikuler sekolah ini telah kami kunjungi, sebundel formulir pendaftaran pun telah penuh ditas karung terigu. Sang pemandu wisata, Kak akbar layaknya tidak pernah bosan untuk terus menghibur kami yang telah lelah berjalan menyusuri tiap ruangan hingga keliling sekolah yang luas ini.

Aku dan Rika memutuskan untuk duduk sejenak dikursi taman yang disediakan didepan tiap kelas, dengan dipayungi pohon cemara udang, kami berdua membuka bekal roti seharga 1500 rupiah dengan air minum tak berlabel. Anak-anak yang lainnya pun terlihat masih kelelahan, membuka roti mereka masing-masing. Saat kudengar suara jatuh yang begitu kencang dari arah kelas X-C, ternyata ada seorang siswa yang jatuh pinsan dikarenakan belum sarapan. yah, setidaknya tim kesehatan mendapat posisi pertama untuk moment ini.

"Nah aline, apa kamu sudah memutuskan hendak ikut ekstra kurikuler yang mana ?" Rika mengajaku berbincang, dengan mulutnya yang berisi roti rasa coklat.

Melody 3 - The dusty violin

Lagi, pagi hari ini kumulai dengan ketukan dipintu kamar, nada orang bicara dibalik pintu itupun masih sama. Ibu kiranya selalu tidak pernah lelah untuk memulai hari lebih pagi dibandingkan papsi dan aku. Yah, itulah peran seorang ibu. Suatu haripun aku akan merasakannya.

Kubuka mata ini sembari meregangkan urat dan otot terpaut saat aku tidur dan masih kuingat kemarin, ketika kutatap jendela kamar bertirai hijau muda, saat kumulai hari baru sebagai seorang siswa SMA yang tengah beranjak belia dengan membuka kerai secara halus sambil menyapa sang surya. Hari pertama telah kulalui tanpa ada halangan.