Semua ruangan ekstra kulikuler sekolah ini telah kami kunjungi, sebundel formulir pendaftaran pun telah penuh ditas karung terigu. Sang pemandu wisata, Kak akbar layaknya tidak pernah bosan untuk terus menghibur kami yang telah lelah berjalan menyusuri tiap ruangan hingga keliling sekolah yang luas ini.
Aku dan Rika memutuskan untuk duduk sejenak dikursi taman yang disediakan didepan tiap kelas, dengan dipayungi pohon cemara udang, kami berdua membuka bekal roti seharga 1500 rupiah dengan air minum tak berlabel. Anak-anak yang lainnya pun terlihat masih kelelahan, membuka roti mereka masing-masing. Saat kudengar suara jatuh yang begitu kencang dari arah kelas X-C, ternyata ada seorang siswa yang jatuh pinsan dikarenakan belum sarapan. yah, setidaknya tim kesehatan mendapat posisi pertama untuk moment ini.
"Nah aline, apa kamu sudah memutuskan hendak ikut ekstra kurikuler yang mana ?" Rika mengajaku berbincang, dengan mulutnya yang berisi roti rasa coklat.
"Sepertinya aku tidak ikut ekskul, ibu selalu melarangku mengikuti kegiatan diluar jam wajib belajar." kulanjutkan makanku dengan tampang yang sedik lesu. Bagaimana tidak, hingga sekarang, aku masih belum mendapat kepercayaan mengikuti kegiatan yang bisa melatih otaku untuk berkreativitas.
"Kalau Rika bagaimana ?" kualihkan mataku ke arah Rika yang sedang meneguk air mineralnya.
"Emmm, aku sepertinya akan ikut paduan suara saja."Rika terlihat menghentikan meneguk agar tidak tersedak ketika menjawab pertanyaan ku tadi.
"Owwhh, sepertinya kamu tidak cocok untuk ikut paduan suara."Nada pesimisku sepertinya membuat mata Rika, sedikit beralih pandang dan terbuka lebih lebar.
"Kok begitu Aline ?"dari nada bicaranya yang agak naik, aku tahu Rika bingung kenapa aku beranggapan seperti itu.
"Kamu lebih cocok untuk menyanyi solo."kucoba meniru senyum maut Papsi. Dan kulihat rona merah menghiasi pipi putihnya. Sesaat ia memalingkan pandangannya kearah tim kesehatan yang masih kesulitan mengangkat siswa yang pinsan tadi.
Ketika kulihat-lihat lagi, ada satu pertanyaan besar sebenarnya dalam kepalaku. Masih berisi tentang bayangan biola indah yang tersimpan berdebu dalam ruang musik tadi, namun kali ini ada kejanggalan. Mengapa tidak ada ekskul musik ? kepala ini masih berisi tanya ketika kak Akbar meminta kami semua berdiri untuk berkumpul ditengah lapangan.
"Ayooo. . .ayoo. . .ayoo. . .semua berdiri. . .berdiri. . ." nada bicaranya kini seperti seorang penjaja 'cangcimen' yang ada diterminal dan kereta api. Sekarang pukul 10, dan panas mulai menemani siang kami yang mengikuti ospek hari kedua.
"Semua siswa siswi baru, berkumpul ditengah lapangan membentuk barisan berbentuk huruf U"Perempuan yang memegang Megaphone itu kembali berkoar-koar ditengah lapangan. Kini ia memakai sebuah topi bertuliskan Githa Bahana Suara. Entah apa artinya itu, yang pasti lapangan sepertinya bukan ide bagus untuk siang hari ini.
Kami pun membuat barisan sesuai permintaan, dan saat semua sudah berdiri sesuai huruf U, sang kakak kelas meminta kami mengeluarkan kertas koran yang kami bawa dalam tas.
"Buat alas duduk kalian menggunakan koran. Sekarang adalah pertunjukan ekskul"ternyata dia adalah mayoret dalam Marcing Band yang dimiliki sekolah ini. Riuh tepuk tangan berbalasan dengan suara dentuman triple bass dan snare memasuki lapangan.
Sebenarnya aku cukup malas untuk melihat performa kumpulan alat musik ditengah panasnya siang ini. Kuputar otak agar aku tidak kepanasan, sebelum
"Aline. . ."lagi, tarikan dibagian bawah bajuku mengalihkan pandangan ke arah Rika
"apa Rika ?"
"temani aku ketoilet. . ."kulihat Rika menjepit rapat kedua pahanya, mengisyaratkan bahwa ia sudah berada di 'ujung tanduk'.
Wahh, Rika bisa membaca pikiranku. Saat aku sedang ingin melarikan diri dari panas, ia menawarkanku sebuah jalan keluar.
"hayuk . .!" dengan mantap kuterima tawarannya. Akhirnya kami meminta izin pada salah satu kakak kelas yang berdiri dibelakang.
Toilet terdekat yang bisa kami temukan adalah toilet didekat ruang Marching Band. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk menggunakannya. Namun dari luar, aku mencium aroma yang tidak sedap, iiyyyuuhhh. . .apa tidak pernah dibersihkan toilet ini ?
"iiiyuuuhh, Rika. . . kita pindah saja ke toilet lainnya."walau tidak terlalu bau menyengat, tapi aromanya cukup mengganggu.
Rika hanya menggeleng-geleng kepalanya sambil sedikit berjinjit. Aku tau, ia sudah tidak sanggup berjalan.
"Kamu masuk sendirian, aku diluar saja ya ?" kulihat Rika mulai mengigit-gigit bibirnya dan berjinjit-jinjit. Ia pun masuk kesana.
Kulihat dari tempatku berdiri, para siswa-siswi ditengah lapangan mulai menggunakan koran bukan sebagai alas duduk, tapi sebagai alas untuk menutup kepala mereka dari terik matahari. Dentuman riuh pemain marching juga terdengar cukup kencang, ketika kuingat
"Oh ya, ini kan dekat dengan ruang musik."kupalingkan pandanganku kearah ruangan disebelah Base Camp Marching Band, diantara dilema apakah aku bisa meninggalkan Rika didalam atau melihat kembali keruangan musik itu ?
"Rika, kamu masih lama kan ? . . . iya aline, aku masih lama. . .Aku tinggal ya Rika ?. . .oke duluan saja !" aku seperti orang gila, berbicara sendiri dan menjawab sendiri dengan nada suara yang lebih kecil. Tapi aku yakin, Rika bisa merawat dirinya sendiri. Lagipula tidak ada orang lain atau laki-laki hidung belang yang akan mengintip dengan jendela setinggi itu.
Kumantapkan kaki melangkah, menjauh dari toilet. Melihat ruangan musik dan biola bermotif batik tadi. Semakin kudekati, aku seperti mendengar sebuah melodi indah, menggema dari dalam ruang musik. Mengalahkan suara marching band yang kuanggap sedikit 'ramai'. Semakin dekat, suara melodi itu semakin kuat dan jelas ditelingaku. Ahh, itu lagu 'last carnival' sebuah melodi yang diciptakan oleh Norihiro Tsuru, violinist terkenal dari jepang. Aku pernah melihat konsernya lewat TV.
Pelan-pelan kudekati, dan kumunculkan kepala melalui jendela yang kotor berdebu. Aku melihat seorang pria berpakaian SMA dengan tinggi kira-kira 172 cm sedang memainkan biola itu, biola bermotiv batik dan penggesek berpita hijau. Aku tidak mau mengganggu mendengarkan keindahan suara biola itu, jadi kuputuskan melihatnya saja dari sini. Owwh, mendengar gesekan senar yang dimainkan pria misterius itu, membuat hatiku tersayat dan ingin mempelajari cara memainkannya. nada demi nada dimainkan begitu indah, bahkan angin mendadak terhenti membiarkan aku ikut menari bersama lantunan melodi yang indah.
Kupejamkan mata, dan menghayalkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting. Namun kiranya lantunan melodi itu membuatku berhayal untuk menari ditengah pasir putih saat mentari mulai terbenam digaris horison.
"ADDEEEKK . . .!!" bayangan tadi hilang saat seseorang mengejutkanku dengan suara panggilan yang keras. Ahh itu Kak Dhani, sang ketua OSIS.
"Ngapain kamu disana ?"
"ahh, enggak ngapain-ngapain kok kak' ku pasang senyum bercampur sedikit panik.
"Kembali ke teman-temanmu ditengah lapangan sanah." ia menunjuk kumpulan koran, dimana dibawahnya ada anak-anak yang berteduh dari panas.
"Baik kak. . .!" tanpa ada alasan lain, akhirnya aku menjauh lagi dari ruangan. Ingin rasanya mengetahui siapa pemain biola tinggi misterius itu.
Khayalanku masih tertinggal bersama ruangan gelap dan sang pemain biola. Dengan jalan yang sedikit berirama, kuberjalan menuju kumpulan anak-anak disana. Owwhhh, ingin rasanya menari dan belajar memainkan biola. Tapi pasti ibu tidak akan mengijinkan aku mengikuti kegiatan apapun diluar sekolah.
Pertunjukan ditengah lapangan dilanjutkan dengan penampilan penampilan theater sekolah. Kami semua tertawa melihat lakon-lakon yang dimainkan oleh para kakak kelas. Dan itulah siang hari kami, ditutup dengan riuhan tepuk tangan tanda selesainya pementasan teater. Yah, setidaknya aku bisa pulang dengan bau prengus.
"Ahh. . .!!" aku teringat sesuatu, kumencari satu sosok yang biasanya tepat ada disebelahku.
"Tidak ada, dimana Rika ?" saat ku mencari keseluruh bagian kelompok, bertanya kepada satu persatu anak didekat kami, tentang keberadaanya. Tak ada. . .
Ammpuunn, aku lupaa !! Kutinggalkan Rika didalam kamar mandi. Sebaiknya aku memeriksa keadaannya, kenapa hingga sekarang ia belum kembali kebarisan. Harap cemas mulai menggelutiku yang melangkah kian cepat. Sesampainya didepan pintu kamar mandi, tak kuhiraukan bau yang menjadi alasanku melarikan diri tadi. Sebuah kamar mandi wanita yang tidak terlalu kotor, namun berbau yang tak sedap. Kulihat masih ada satu pintu yang tertutup, kuberharap disitulah Rika.
"RIIIKKAA. . . .RIIIKA. . . .apa kamu masih didalam ?"kuharap gedoran keras ini bisa menyadarkan Rika bahwa aku menghawatirkannya saat ini.
hingga dua kali kupanggil nama perempuan ini, ternyata tak dihiraukan dari balik pintu ini. Cukup panik, tanpa pemikiran panjang, yang kutahu seseorang dibalik pintu ini tidak menjawab panggilanku. Kucoba mendorong, dan benar adanya bahwa pintu itu terkunci dari sisi yang lain.
"RIIIKAA . . . RIIIKKKAA . . . !!"ayolah, buka pintunya. Jangan membuatku hawatir Rika. lagi dan lagi, kiranya ada sesuatu yang terjadi oleh orang didalam. Atau ia hanya menggunakan headpone yang cukup membuatnya terisolasi dari suara keras ini.
Kuputuskan untuk mencoba melakukan sesuatu yang belum pernah kulakukan, kuambil ancang-ancang berjalan mundur. Mengangkat sedikit rok biru ini, dan kutendang sekuat tenaga pintu kamar mandi yang mengurung seseorang yang kukenal didalam.
Suara patahan kunci engsel kudengar ditandai terbukanya pintu, sesaat aku sendiri terheran belajar dari mana aku menendang seperti itu. Membuka sebuah pintu kokoh menggunakan kaki kecilku yang kurus dan meninggalkan sebuah tapak ditempat kulandaskan kaki. Ahh, nanti dulu terherannya, didalam aku melihat Rika yang terbaring dengan kepala yang membiru dibagian dahi sebelah kiri. Kukira ada yang memukul kepalanya, namun nanti aku tahu bahwa itu adalah luka terbentur bibir toilet. Bergegas ku tarik tubuhnya, berharap ia mau menyahutku saat ini.
"RIIIKAAA. . . RIIIIKAA. . . . HEEEYYY !!!"kutepuk pipi putihnya, namun tak ada tanda bahwa ia akan membuka matanya. Akhirnya kuteriakan isyarat pertolongan, berharap ada yang mendengar dan mau menolong sahabatku yang sedang menderita ini.
"TOOOLLLLOOONNGG. . . .ada yang denger gakk ??"butuh berkali-kali kuteriak, sampai suara ini didengar seseorang diluar.
"Siapa yakk ?" Kak akbar kiranya orang diluar sana yang mendengar teriakanku.
"Tolong kak, panggilkan seseorang. Ada siswa yang pinsan didalam sini" kepanikan masih menyelimutiku didalam toilet perempuan.
"SEBENTAR . . .AKU PANGGILKAN TIM KESEHATAN." suara itu seperti menjauh, Aku harap kak akbar cepat datang membawa bantuan.
akupun masih berusaha memanggil Rika agar sadar dari tidurnya, entah. Yang kutahu, ketika mata tertutup, kita sedang tidur. Beberapa saat kemudian suara langkah yang ramai menghampiri kami. Syukur alhamdulillah, itu kak akbar yang menghampiri bersama tiga orang laki-laki dan dua perempuan membawa sebuah tandu.
"Ayooo dab, angkut . . .!" kak akbar memerintahkan dua orang laki-laki mengangkat Rika.
"Jangan macem-macem. TANGANNYA YAH MASS, TANGAN !" Pria Kribo itu meributkan sesuatu yang sebenarnya tidak penting saat ini.
"udah angkat cepetan !" salah satu perempuan menyodorkan tandu kedekat pintu. Akhirnya setelah beberapa lama perdebatan yang diributkan kak akbar dengan dua laki-laki yang hendak mengangkat Rika, akhirnya ia dikeluarkan dari toilet. Mereka membawanya ke Ruang Kesehatan untuk melakukan pertolongan.
Kami semua berjalan keluar, kecuali Kak akbar yang terkagum melihat sebuah tapak kaki yang menempel dipintu kamar mandi. Aku tidak mau menghiraukan itu, ku ikuti tim kesehatan membawa Sahabatku, aku harap ia tidak apa-apa. Ayo Rika, Sadar lah. Arak-arakan kami sepertinya menjadi sebuah tontonan lain disiang hari ini, mata-mata yang ada dilapangan menatap kami dan mengikuti arah perjalanan, mengantar menuju ruang kesehatan.
"STERILKAN RUANGAN !"Laki-laki yang membawa tandu berteriak ketika kami berada kira-kira satu meter dari luar Ruang Kesehatan. Kulihat didalam ramai siswa tengah duduk, wajah mereka tak tampak sakit. Tapi pita merah dilengah sebelah kanan, mengingatkan aku saat awal penjelasan masa orientasi. Bahwa siswa yang kedapatan sakit, atau membawa surat keterangan sakit, dibedakan dari siswa lainnya menggunakan tanda ini.
Saat itu juga, orang-orang yang memakai ikat tangan berlambang plus menyiapkan tempat tidur dan kotak obat, sepertinya mereka telah siap memberikan pertolongan untuk Rika. Dua orang yang membawa tandu didepan, mencoba memasukan tandu melalui pintu secara perlahan, agar tidak menjatuhkan atau menggoyangkan tubuh Rika. Perlahan mereka memasukan tandu, dan meletakannya didalam. Rika diangkat perlahan keatas kasur dari tandu yang berada dibawah.
kulihat dua perempuan yang ikut membawa tandu tadi menarik para laki-laki untuk keluar dari ruangan. Salah satunya menarik kerai jendela, menutup proses penyembuhan Rika. Aku ikut masuk, menemani Rika yang belum juga mau membuka matanya. Mereka mulai meregangkan ikat pinggang, melepas sepatu dan membuka sedikit kerah baju Rika. Salah satu kakak itu mengeluarkan cairan dari dalam kotak medis, meneteskannya pada kapas dan menempelkan cairan itu kehidung Rika. Kulihat, pergerakan bola mata dikelopaknya yang masih tertutup. Pelan-pelan hidungnya yang mungil itu mengembang, apakah ini tanda ia akan sadar ?
Perlahan, Rika mulai membuka matanya yang sayup. Syukurlah. . . ia hanya pinsan sesaat. Sang kakak kelaspun membantunya untuk duduk dan memberikan sebuah air putih.
"Kamu nggak papa ?" tampang harap cemas aku akan sahabat satu ini. Dan ia hanya membalasku dengan gelengan dikepala serta sebuah senyuman simpul seperti tidak terjadi sesuatu yang berarti. Tapi rona biru di dahinya menjadi saksi bahwa ada sesuatu yang membuat Rika bisa jatuh pinsan.
"Belum makan kah dek ?" salah seorang kakak kelas bertanya kepada Rika, bibirnya masih pucat putih.
"Sudah kak." Rika tampaknya masih berusaha untuk tersenyum dalam kondisi ini.
"Lalu apa yang membuatmu pinsan dikamar mandi ?" tungkas sang kakak perawat.
"Tadi aku masuk kamar mandi, lalu saat kukunci pintunya, dadaku sesak karena bau didalam." Yahhh, kebenaran akhirnya terungkap. Bau dikamar mandi itulah penyebab lebam biru dikeningmu Rika.
"Kamu punya sakit astma kah dek ?" dengan tangan yang menyodorkan segelas air putih yang tinggal terisi setengah, sang kakak perawat melanjutkan tanya pada sahabatku yang masih terkujur lemas.
Anggukan kecil layaknya cukup memberikan kami semua yang hawatir ini sebuah jawaban. Akhirnya akupun duduk disebelah kawanku, menemaninya hingga ia pulih. Dari arah pintu suara nyaring Kak Akbar terdengar lagi sambil memaki sesuatu yang berhubungan dengan pintu.
"Siapa yang bikin tanda kaki di pintu tadi dek ?" matanya melirik kearah kami berdua yang sedang saling menguatkan.
"Maaf kak, tadi aku panik. Jadi ku tendang saja pintunya." aku sendiri sedikit takut, apabila harus mengganti pintu yang rusak karena ulahku, entah alasan apa yang akan kukatakan pada Papsi dan ibu.
Lalu senyum lebar terlihat diwajah Kak Akbar sambil berkata
"BAAGUUUSSS. . . .!" dua jempol tangannya mengarah, seakan ia menyetujui aksi yang kulakukan.
"Besok, ikut latihan Tae Kwon Do ya ? sekolah kita butuh atlit berbakat kayak kamu. Tendanganmu luar biasa. . . .guuurrriiihhh !" telunjuk dan ibu jari kak Akbar membentuk simpul lingkaran sambil menempelkan kearah mulut, seperti pak bondan winarno yang merasakan kelezatan suatu masakan.
Lagi, walau dalam kondisi seperti ini kiranya humor dan guyonan adalah cirikhas Kak Akbar yang membuat hari kedua ini, membuatku membuat catatan besar dalam kepala, akan aksi atlit kung fu dan tendangan supernya.
|
0 Responses
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
