Melody 1 - A day dreaming

Ini dia mulai, pagi hari ketika aku melangkahkan kaki dan berpindah kamar dari kamar anak-anak menuju kamar dewasa. Rasanya baru kemarin aku masih merasakan baju putih dan rok biru yang kupakai selama 3 tahun. Masa SMP memang masa yang tidak pernah ingin aku bahas, sama seperti masa sekolah dasar. Semuanya selalu sama, dengan sedikit teman.

Sejak SD hingga SMP, aku selalu bermain dengan teman yang bisa kuhitung dengan jari, 3 orang. Entah kenapa ibu selalu melarangku bermain keluar rumah ketika selesai pulang sekolah, hingga aku jarang bisa bersosialisasi dengan orang lain selesai itu. Bahkan aku ragu, tetangga sebelah rumah bisa ingat, bahwa aku anak keluarga Brawijaya satu-satunya.


Namaku adalah Nadira Alin Brawijaya atau kalian bisa menyebutnya Aline. Hari ini aku melakukan kegiatan yang sudah umum dilakukan oleh anak-anak yang lulus Ujian Akhir, yaitu masuk SMA. Ibu bilang, masa SMA adalah masa yang sulit, penuh dengan kepalsuan dan hal-hal buruk lainnya. Sama seperti yang biasa ibu ucapkan ketika aku masuk SMP. Pagi ini aku diantar oleh ayah dengan mobil kijang innova silvernya, berangkat menuju SMA, tepat hari ini aku akan melakukan kegiatan yang sebenarnya ingin ku abaikan, OSPEK. entah kenapa OSPEK selalu diidentikan dengan barang-barang bawaan aneh dan dandanan nyentrik. Yang pasti, ayah dan ibu kenal betul dengan kepala sekolah SMA ini, sehingga sang kepala sekolah memintaku untuk mengikuti kegiatan ini.

"Aline, sudah siap ?" ibu memanggilku dari luar pintu kamar.

Itulah ibuku, Milla Brawijaya, perempuan baya, berbadan bugar dan langsing dengan rambut indah terurai sebahu. Aku tidak mengherankan kenapa ibu tidak tampak seperti ibu rumah tangga lainnya. Kehidupannya sebagai seorang model saat masih muda, kiranya membuat ibu menjadi pribadi yang lebih tahu bagaimana merawat diri sendiri. Namun itu dulu, sekarang ibu telah pensiun muda demi meluangkan waktu merawatku.

"Iya ibu, aku siap." walau sebenarnya tanganku masih merapihkan kaus kaki merah biru selutut yang diminta untuk dipakai selama masa OSPEK 3 hari ini.

"Kalau begitu cepat, ibu sudah menyiapkan sarapan telur dadar, sayur brokoli dan paprika."
yah ibu memang tahu, kalau aku masih membutuhkan banyak nutrisi untuk memulai hari yang melelahkan ini.

Setelah kulihat semua perlengkapan yang dibutuhkan, keluar kamar adalah opsi yang mungkin kupertimbangkan, aku malas mengikuti kegiatan OSPEK ini. Tapi mau apa, aku sudah berjanji kepada ayah kemarin, bahwa aku akan mengikuti kegiatan OSPEK, ayah bilang

"OSPEK tuh seru dek, kamu bisa ketemu teman baru. Dan banyak hal yang dijelaskan selama OSPEK."

Diruang makan, aku sudah melihatnya. Ayah yang selalu kupanggil "Papsi" orang yang usianya hanya terpaut 2 tahun lebih muda dari ibu. Ia membaca koran pagi, layaknya ayah metropolitan normal lainnya. Mendengar aku menggeser kursi makan, sepertinya membuat konsentrasi membaca papsi terganggu, ia pun memalingkan wajahnya dari koran dan memandangku, dengan sendok kopi yang di "emut-emut". Papsi memang orang yang aku paling favoritkan, karena ia bisa membuat keluarga kami selalu tersenyum dengan kelakuan konyol dan kejutan yang ia punya.

"oowh, pagi aline." masih dengan mulut yang meng-emut sendok, papsi kelihatannya siap juga untuk mengantarku berangkat ke sekolah.

"Nahh, kita semua sudah berkumpul. Ayo ayah, pimpin doa. Korannya ditutup dulu." Ibu menarik kursi makan, dan meletakan segelas susu coklat kegemaranku.

Makan bersama selalu menjadi sebuah tradisi yang tidak bisa dilewatkan bagi kami sekeluarga. Dan doa kepada Allah SWT, adalah sebuah kebiasaan bagus yang selalu diajarkan dalam keluarga besar kami. Makan pagi pun dimulai dengan suasana yang hangat dan obrolan-obrolan tentang apa yang akan dilakukan pagi ini oleh masing-masing kami.

Sarapan pagi selesai, ibu membereskan meja dan ayah pun berdiri sambil menarik dasi

"yooo, kenapa kantor mewajibkan memakai dasi. Papsi paling nggak suka dengan sesuatu yang mengekang"

"sudahlah, ayah kelihatan lebih tampan dengan dasi itu."ibu memuji papsi yang selalu mengomel tentang kantor tempatnya bekerja selalu mewajibkan karyawan memakai dasi. Oh, aku lupa bilang, papsi bekerja disebuah bank sebagai akuntan senior. Papsi pernah protes pada pimpinan bank, bahwa ia ingin merubah itu dan tentu kalian sudah menduganya, ditolak. Bank beranggapan, itu merupakan ciri dari kehidupan perbankan modern dan dasi, merupakan sebuah simbol keteraturan. Yahh, terima saja papsi.

"ayo aline, kita berangkat" papsi melangkah dari tempatnya berdiri menuju pintu depan.

"enggak mau.." aku malas memandang papsi saat ini.

"Kenapa, papsi bakal terlambat nanti kekantor. Dan kamu akan terlambat mengikuti upacara pembukaannya !" papsi menatapku dengan senyum tampannya yang mampu membuat ibu tidak kuat menahan rasa cinta.

"Aline nggak mau berangkat ke sekolah kalau papsi menggunakan celana piyama !" aku menunjuk papsi yang berdandan aneh, dan selalu begitu tiap paginya. Kalau tanpa celana, pasti papsi salah memakai celana atau lupa mengenakan sepatu yang serasi.

aku pun selalu melihat ibu yang tersenyum dengan hal itu. Ya, inilah keluarga kami. Walau pekerjaan papsi penting, ibu yang merupakan mantan model, dan aku anak semata wayang, kami menjadi keluarga sederhana yang tidak berlebihan dan senyum layaknya merupakan sebuah hal yang menghiasi hari-hari sederhana kami.

0 Responses