8:30 AM
|
by Kagura Tetsuma

Aku rasa Rika butuh istirahat lebih banyak. Kasihan Rika, aku harap setelah ini, pihak sekolah mulai mempertimbangkan untuk lebih sering membersihkan tiap sudut fasilitas umum yang ada disekolah ini. Sudah ada satu korban tidak bersalah yang terkena imbas kurang menjaganya fasilitas bersama oleh lingkungan sosial.
"Aline, aku ingin bangun. . " Rika menggenggam tanganku kuat,
"Nanti saja, kamu butuh istirahat yang cukup saat ini." Ku coba berikan pengertian yang cukup masuk akal, menimbang ia masih memegang kepalanya yang lebam.
"Obat ku ada ditas. . .dadaku sesak. . ." nafasnya mulai terengah. Obat ! itulah yang diinginkan Rika saat ini.
4:23 AM
|
by Kagura Tetsuma

Semua ruangan ekstra kulikuler sekolah ini telah kami kunjungi, sebundel formulir pendaftaran pun telah penuh ditas karung terigu. Sang pemandu wisata, Kak akbar layaknya tidak pernah bosan untuk terus menghibur kami yang telah lelah berjalan menyusuri tiap ruangan hingga keliling sekolah yang luas ini.
Aku dan Rika memutuskan untuk duduk sejenak dikursi taman yang disediakan didepan tiap kelas, dengan dipayungi pohon cemara udang, kami berdua membuka bekal roti seharga 1500 rupiah dengan air minum tak berlabel. Anak-anak yang lainnya pun terlihat masih kelelahan, membuka roti mereka masing-masing. Saat kudengar suara jatuh yang begitu kencang dari arah kelas X-C, ternyata ada seorang siswa yang jatuh pinsan dikarenakan belum sarapan. yah, setidaknya tim kesehatan mendapat posisi pertama untuk moment ini.
"Nah aline, apa kamu sudah memutuskan hendak ikut ekstra kurikuler yang mana ?" Rika mengajaku berbincang, dengan mulutnya yang berisi roti rasa coklat.
3:51 AM
|
by Kagura Tetsuma

Lagi, pagi hari ini kumulai dengan ketukan dipintu kamar, nada orang bicara dibalik pintu itupun masih sama. Ibu kiranya selalu tidak pernah lelah untuk memulai hari lebih pagi dibandingkan papsi dan aku. Yah, itulah peran seorang ibu. Suatu haripun aku akan merasakannya.
Kubuka mata ini sembari meregangkan urat dan otot terpaut saat aku tidur dan masih kuingat kemarin, ketika kutatap jendela kamar bertirai hijau muda, saat kumulai hari baru sebagai seorang siswa SMA yang tengah beranjak belia dengan membuka kerai secara halus sambil menyapa sang surya. Hari pertama telah kulalui tanpa ada halangan.
4:54 PM
|
by Kagura Tetsuma

Setelah berganti celana piyama dengan celana yang lebih pantas,ibu mencium kening kami.
"Hati-hati. Kalau ada apa-apa,bilang sama pak wangsa."
Setelah mencium keningku,ibu menyerahkan tas dari tepung terigu.Sebuah tas yang menjadi syarat untuk mengikuti OSPEK.
"Baik ibu." Sebenarnya aku malas diperlakukan sebagai anak-anak. Diawasi dan diperingatkan terus untuk sesuatu yang aku tahu dari dulu.
"Papsi,bisa jemput aku pulang?"Aku berharap papsi bisa menjemputku sore ini.
12:48 AM
|
by Kagura Tetsuma

Ini dia mulai, pagi hari ketika aku melangkahkan kaki dan berpindah kamar dari kamar anak-anak menuju kamar dewasa. Rasanya baru kemarin aku masih merasakan baju putih dan rok biru yang kupakai selama 3 tahun. Masa SMP memang masa yang tidak pernah ingin aku bahas, sama seperti masa sekolah dasar. Semuanya selalu sama, dengan sedikit teman.
Sejak SD hingga SMP, aku selalu bermain dengan teman yang bisa kuhitung dengan jari, 3 orang. Entah kenapa ibu selalu melarangku bermain keluar rumah ketika selesai pulang sekolah, hingga aku jarang bisa bersosialisasi dengan orang lain selesai itu. Bahkan aku ragu, tetangga sebelah rumah bisa ingat, bahwa aku anak keluarga Brawijaya satu-satunya.