Melody 2 - The School

Setelah berganti celana piyama dengan celana yang lebih pantas,ibu mencium kening kami.

"Hati-hati. Kalau ada apa-apa,bilang sama pak wangsa."
Setelah mencium keningku,ibu menyerahkan tas dari tepung terigu.Sebuah tas yang menjadi syarat untuk mengikuti OSPEK.

"Baik ibu." Sebenarnya aku malas diperlakukan sebagai anak-anak. Diawasi dan diperingatkan terus untuk sesuatu yang aku tahu dari dulu.

"Papsi,bisa jemput aku pulang?"Aku berharap papsi bisa menjemputku sore ini.


"Ahh,maaf ya sayang. Papsi ada rapat direksi hingga jam 5."Tangan papsi yang lebar itu bisa meraih seluruh bagian kepalaku yang kecil. Yah,sudah lah. Papsi memang tidak bisa menjemputku pulang sore ini.

"Baiklah mamsi,papsi berangkat membawa sang tuan putri ke pesta dansa"papsi mengibaskan rambutku yang terikat tak karuan dengan pita warna-warni ini.

"Apaan sih papsi. Ibu,aline berangkat. Assalamualaikum."

"Walaikum salam."lambaian tangan yang pernah kulihat dari video penampilan ibu saat masih muda itu mengantar keberangkatan kami berdua.

Setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih 35 menit untuk sampai kesekolah. SMA Harapan Bangsa. Sebuah sekolah swasta dengan bangunan peninggalan Masa Penjajahan Belanda, yah semua bangungan dikota ini memang didominasi oleh bangunan belanda tua. Dari mulai bangunan toko, sekolah hingga rumah sakit.

"oke putri, kereta berhenti disini. Itu tempat tujuan anda." Papsi berhenti tepat 5 meter sebelum gerbang sekolah, dan menurunkan ku. Kuharap, setelah membuka pintu ini, tidak ada kejadian yang unpredictable menimpaku hari ini.

Ku keluar dari pintu mobil, dan kulihat para siswa baru yang sama dandanannya denganku berlarian memasuki pintu gerbang.

akupun tidak lupa mengucapkan selamat tinggal pada papsi yang telah mengantarkan berangkat.

"Dadah papsi. Ntar sore aku titip belikan donut jika papsi pulang kerja." ku membuka pintu mobil avanza papsi dengan membawa serta barang-barang kebutuhan OSPEK.

Isyarat lonceng yang berderu dari dalam, mengisyaratkan kami semua para mahasiswa baru untuk bergegas menuju lapangan tengah.

Ku angkat tas karung terigu,bergegas dan menempatkan diriku diantara barisan siswa baru. Disisi yang lain,kulihat seseorang melambaikan tangannya.

"Mamet...?"aku memicingkan mata,karena dari tempatku berdiri, aku kurang bisa melihat jelas muka orang yang melambai.

Namun samar-samar,kulihat dari bentuk senyum dengan gigi yang sumbing,kurasa itu mamet, satu dari tiga orang temanku semasa SMP. Ah aku tidak hiraukan itu sekarang,sepertinya upacara akan dimulai.

Setelah upacara penyambutan yang cukup meriah,kami masih tampak kontras dengan baju berwarna putih biru beratributkan sampah-sampah dari ujung kepala sampai kaki. Hari pertama OSPEK ini akan kami lalui dengan orientasi kelas dan perkenalan wali kelas.

BUUKKKK! seseorang menepuk punggungku dari belakang. siapa sih...

"hemmmhh...?" dengan nada geram,kupalingkan wajah.

"oooshhhh !"dengan senyum bergigi sumbing, ahh ini anak yang melambai padaku tadi dilapangan upacara.

"MAMEETT!!" Aku senang, itu memang benar orang yang kukenal sejak SMP.

"Disapa malah diem aja."Mamet menarik-narik tasku. Aku masih belum percaya, setidaknya ada satu orang yang kukenal untuk diajak menemaniku selama 3 hari ini, atau mungkin 3 tahun.

"Kok, kamu nggak tambah tinggi kayaknya mett ?"jariku menunjuk dari atas kepala hingga bawah tubuh mamet. Tak habis memandangi orang ini yang tidak tambah tinggi satu inci-pun sejak kelas 3 SMP, saat aku mulai akrab dengannya.

"hmm, kenapa ya?"kenapa memasang wajah seakan-akan dia sendiri tidak tahu jawabannya ?

"Biasa lin, kurang nutrisi. Hehehehe !" lagi, senyum sumbing itulah yang membuatku bisa membedakan keberadaannya diantara banyak orang disini.

"Mett, temani aku dong. Untuk 3 hari ini aku belum punya siapa-siapa."kuberbalik menarik-narik tas karung mamet yang kebetulan berada didepan tubuh agak tambunnya. Kupasang wajah memelas, agar ia mau menerima ajakanku.

"ahh, aku mau. Tapi kita kan beda kelas." tangannya mencoba melepaskan genggamanku dari tas.

Belum sempat kutanya dimana kelasnya, bell terlanjur berbunyi dan mamet melambaikan tangan pertanda ia pergi, masuk ke kelasnya. Yang hingga saat ini masih antah berantah. Ah nanti juga kita bertemu lagi. Sekarang, aku harus mencari kelas X-E, yang merupakan kelasku untuk saat ini.

"kelas X-E, dimana yah ?" kuurut satu persatu ruangan yang kulihat dari tempatku berdiri.

"Ahh, itu dia !" kulihat ruangan yang tepat berada ditengah-tengah antara kelas X-D dan kelas X-F. Ruangan itu telah diramaikan oleh anak-anak yang berpenampilan sama denganku. Memakai seragam putih biru dan memakai atribut sama.

"Wahh, ramai. Duduk dimana nih ?" ku sapu pandanganku keseluruh penjuru ruangan untuk mencari apakah masih ada satu bangku kosong yang bisa kutempati. Ahh, itu dia. Sebuah bangku kosong tepat disebelah seorang anak perempuan berwajah oriental dengan rambut terkepang kebelakang.

"Boleh aku duduk disini ?" kuhampiri anak perempuan ini. Dengan mata yang segaris sembari tersenyum, ia mengangguk. Menandakan bahwa tidak ada orang yang menempati kursi itu.

Merasa sudah mendapat izin, kukitari meja depan untuk sampai ke tempat duduk tadi. Dan kuletakan tas karung tepung ini bawah meja, dimana terdapat sebuah ruang untuk meletakan buku atau semacamnya.

"Namaku Eun Yeul Gyo, tapi kamu boleh memanggilku Rika"wajah oriental itu tersenyum kepadaku sambil menyodorkan tangan, isyarat berjabat tangan.

"Namaku Nadira Alin Brawijaya, kamu boleh memanggilku aline" kusambut tangannya yang ingin berjabat itu. Untuk sekarang, aku bisa menambah teman. Satu lagi, setelah ada mamet yang kutemui tadi diluar kelas.

Dan dialog panjang kami ikut menambah suasana riuh dikelas ini. Kami mulai berdiskusi tentang dari mana asal sekolah kami, alamat asal dan tentang kehidupan SMP yang telah kami lalui. Tiba-tiba aku hendak menanyakan sesuatu yang agak personal kepada Rika.

"Tunggu dulu. Tadi Rika bilang namamu Eun Yeol Gyo, kok kayak nama korea ya ?"memang, aku pernah mendengar nama seperti itu hanya dimiliki oleh orang-orang korea.

"Memang, ayah adalah Warga Negara Asing. Berasal dari korea" senyum mata segaris itu layaknya menjadi khas diwajah Rika.

Belum sempat selesai kutanyakan semua tentang rika, seorang wanita memakai baju gamis nan serasi dengan kerudung cantik masuk kedalam ruangan kelas. Ia menuju meja didepan, meletakan sebuah map, dan mengambil kapur. Menuliskan sebuah nama didepan, Zahra Nuraini, S.Pd. Sebuah nama yang indah dan pantas untuk seorang wanita seperti itu. Suara yang lirih merdunya menyapa kami dipagi hari ini,

"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh." entah, aura apa yang dimiliki wanita ini, namun kelas yang tadinya riuh, mendadak senyap.

"Hmm, kenapa tidak dijawab ? sekali lagi yah. Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarokatuh."Dengan suara yang agak kencang, ia mengulang salamnya. Untuk didengar seluruh siswa dikelas. Dan semua siswa nampaknya lebih mendengar saat ini.

"WALAIKUM SALAM" ada yang menjawabnya "WALAIKUM SALAM WARAHMATULLAHI WABAROKATUH" secara pelan.

"Perkenalkan teman-teman siswa baru, nama saya adalah Zahra Nuraini. Selama 1 tahun ini, saya akan menjadi wali kelas kalian di kelas X-E."Dan itulah perkenalan pertamaku dengan sosok wanita muslim yang menginspirasiku nantinya untuk memakai jilbab dan menutup aurat.

Nampaknya hari pertama ini, akan menjadi hari yang menarik. Tanpa ada sesuatu yang menyebalkan dan tingkah laku aneh para senior yang belagak menjadi orang penting ketiga setelah kepala sekolah dan para guru. Orientasi sekolah dan kelaspun dimulai, dan disinilah aku bersama ke 20-orang siswa kelas X-E menjalani hari-hari kami yang masih menjadi tanda tanya, apa akan diisi dengan hal-hal seru atau hal-hal yang membosankan.

0 Responses