Aku rasa Rika butuh istirahat lebih banyak. Kasihan Rika, aku harap setelah ini, pihak sekolah mulai mempertimbangkan untuk lebih sering membersihkan tiap sudut fasilitas umum yang ada disekolah ini. Sudah ada satu korban tidak bersalah yang terkena imbas kurang menjaganya fasilitas bersama oleh lingkungan sosial.
"Aline, aku ingin bangun. . " Rika menggenggam tanganku kuat,
"Nanti saja, kamu butuh istirahat yang cukup saat ini." Ku coba berikan pengertian yang cukup masuk akal, menimbang ia masih memegang kepalanya yang lebam.
"Obat ku ada ditas. . .dadaku sesak. . ." nafasnya mulai terengah. Obat ! itulah yang diinginkan Rika saat ini.
"Adek tahu dimana tasnya ?" Kakak kelas yang merawat Rika memintaku mengambil obat. Tas Rika tentu saja didalam kelas. Aku keluar dari ruang kesehatan tanpa lupa mengenakan sepatuku, berlari menuju kelas dan mengambil tas tepung terigu Rika dibawah meja, tempat biasa kami meletakan barang-barang.
Kubuka tas itu, melihat kedalamnya. Ku keluarkan satu persatu isinya dan mendapati sebuah benda berbentuk tungkas dengan corong hisap diujung sebesar mulut dengan tulisan "nebulizer". Hemm, aku pernah melihat benda seperti ini difilm-film Hollywood, saat salah satu tokoh terkena astma, mereka akan menghisap suatu gas yang muncul dari tekanan pada alat ini. Mungkin obat ini yang dimaksud Rika, ku bergegas merapihkan kembali tasnya dan membawa obat hisap ini.
"Apa yang ini obatnya ?" ku dekati Rika yang duduk dengan punggung bersandar pada tembok yang dilapisi bantal. Ia mengangguk sambil bernafas sedikit terengah, kuberikan obat ini pada Rika, dan ia mulai menggunakannya.
Dua kali tekanan nampaknya membuat ia kembali bernafas dengan wajar. Senyum manis itu kembali tersirat dari paras Rika, syukurlah. Jika ia telah tersenyum, berarti ia tahu sudah baik-baik saja. Aku memang bukan dokter, jadi kusimpulkan senyum itu adalah tanda bahwa ia sudah baikan.
Butuh waktu satu jam untuk para kakak kelas diruang kesehatan memastikan bahwa Rika sudah baikan, setelah ia bisa bernafas dengan seirama, akhirnya mereka mengizinkan Rika kembali kekelas. Dengan memapah tangannya yang kurus putih, kupastikan ia tidak terjatuh dijalan. Walau kak Akbar menatap seperti ingin memastikan bahwa aku memberikan jawaban ia atas tawarannya bergabung di tim Tae Kwon Do Sekolah. Entahlah, saat ini yang kuinginkan adalah mengantarkan Rika kembali kekelas untuk duduk.
Sesampainya disana, kawan-kawan sekelas menatap dan beberapa perempuan menghampiri kami untuk membantu memapah Rika
"Aku tidak apa teman-teman. Sungguh" senyum manis dengan bibir berwarna pucat itu kiranya ingin membuat rika terlihat tegar dengan apa yang barusan terjadi dengannya.
"Aline, tidak apa. Aku bisa berjalan sendiri"ia meraih tanganku yang memegang erat.
"Yakin kamu tidak apa ?" belum mau kulepas tangannya, saat ia menggelengkan kepala. Akhirnya kulepas tangan itu, dan berharap ia tidak terjatuh.
Rika pun berjalan menuju meja, dengan menggenggam bibir meja, tangannya memastikan ia duduk ditempat yang tepat. Dan aku masih memperhatikannya saat ini, saat ku mengerti bahwa sahabat baruku membutuhkan perhatian lebih. Dan aku sebagai sahabatnya saat ini, kiranya bisa menyediakan untuknya.
Hari kedua Orientasi ini diisi dengan sebuah kejadian yang mengejutkan. Pertama, aku menendang sebuah pintu, kedua, sahabatku dikalahkan oleh aroma tak sedap sebuah ruangan yang sebenarnya tidak bergerak kemana-mana. Bel tanda istirahat siang berdering dipengeras suara. Akupun membuka bekal makan siang yang kubawa dalam tas kantung terigu.
"Kamu mau makan, Rika ?" kutawarkan sebuah roti lapis yang kubawa dari rumah. Mungkin terdengar lucu, saat Remaja seusiaku harusnya bebas makan dan berbelanja diluar, aku maish seperti anak kecil dengan sekotak makanan. Namun sekali lagi, ibu yang menginginkan hal ini. ia selalu berkata
"Makanan diluar belum terjamin kebersihannya !" sambil kuterbayang ia selalu menyodorkan kotak makan ungu ini tiap aku hendak pergi berangkat sekolah sejak kelas 3 SMP. Entah mengapa hingga sekarang aku tidak ingat, apakah aku pernah membawa kotak makan yang sama sebelumnya.
Rika pun hanya menggelengkan kepala, tangannya yang kecil itu merogoh kebagian dalam meja. Mengambil sebuah kotak yang dibalut serbet bergaris merah. Ternyata ia membawa bekal juga. Ketika kulihat, ia membawa sebuah nasi kepal, hmmm. . . aku tergoda. Nasi kepal itu terlihat enak, tapi ibu melarangku untuk makan selain makanan yang kubawa dari rumah. Akhirnya kami memakan bekal kami masing-masing didalam ruang kelas yang sepi ini.
"Rika. . ." kupandang Rika dengan tangan yang memegang Roti lapis
"Ya aline. . .?" Rika berhenti melahap nasi kepalnya dan mengalihkan pandangan padaku
"Sejak kapan kamu terkena astma ?" Sejak Rika pinsan, aku hanya ingin memastikan ia tidak mendapat cidera dikepala yang parah. Apalagi jika kulihat lebam biru dikeningnya itu.
"Coba ku ingat, hmmm. . . .aku terkena astma sejak kelas 2 SD"
"Apakah itu penyakit keturunan ?" kulanjutkan pertanyaanku, namun kali ini hanya agar waktu makan siang ini terisi dengan benar, kekosongan dikelas ini harus disudahi dengan dialog-dialog kecil.
"ah Aline, tentu saja astma bukan penyakit keturunan" senyum manis diraut Mukanya itu menghiasi kunyahan makan siang kami berdua.
"Aku sendiri tidak tahu jelas, bagaimana aku bisa kena astma.. . " ia terhenti sejenak untuk mengingat bagaimana ia bisa terkena astma.
"Yang pasti, sewaktu kelas 2 itu, aku sedang berolah raga. Dan entah tiba-tiba aku seperti jatuh terduduk." sambil memegang dadanya, ia melanjutkan
"Dan dadaku ini seperti sesak sekali. Dan saat aku didiagnosa dokter, yaa. . aku dibilang mendapatkan astma" ironis memang, jika Rika yang masih sekecil itu dikejutkan dengan sebuah fakta bahwa ia terkena penyakit ini.
Makan siang kami pun dilanjutkan dengan berbagai obrolan kecil. Dan tak terasa waktu istirahat ini telah habis, dan kini semua siswa berjalan masuk kedalam kelas satu persatu. Dari pintu depan, ku lihat satu orang perempuan, ahh itu ibu Zahra Nuraini, wali kelas kami. Tiap selesai istirahat makan siang, ia selalu menyempatkan diri mengunjungi kami dikelas, walau itu bukan waktu jam mengajarnya.
Kulihat ia membawa sebuah map berwarna merah muda, berjalan menuju meja depan. Semua siswa bergegas masuk dan duduk dengan tertib sembari merapihkan baju mereka yang berantakan.
"Assalamulaikum warahmatullahi wabarokatuh" kami pun serempak menjawab salam Ibu Zahra.
"Walaikum Salam Warahmatullahi Wabarokatuh"
"Teman-teman semua, hari ini ada sebuah kuisoner yang hendak ibu bagikan." kuisoner, apa itu ? kira-kira tentang apa itu semua ?
"Jika kalian memperhatikan pidato Pak wangsa hari pertama Orientasi kemarin, beliau menyebutkan tentang kelas Potensi" ia pun membuka map itu, dan mengeluarkan sebundel kertas dan mulai berdiri disamping meja
"Jadi ibu ingin, teman-teman semua mengisi kuisoner ini sesuai dengan potensi teman-teman." ia pun berjalan kearah kami, dan membagikan kertas tersebut dari sisi sebelah kanan meja terdepan.
"Kuisoner ini bisa kalian diskusikan dengan orang tua kalian. Agar sesuai dengan keinginan kalia ndan kedua ibu bapak." dari meja belakang kudengar seseorang berkata dengan cukup keras
"bu, kalau potensi untuk menjadi copet ada gak ?" sontak kami semua tertawa.
Namun sepertinya bu Zahra hanya tersenyum manis, tidak menghiraukan perkataan tadi. Satu persatu kertas dibagikan keseluruh siswa dari sisi depan menuju bangku paling belakang.
"Kertas ini tolong kalian kumpulkan besok. Ingat, pengisian ini sangat penting untuk membagi kalian kedalam kelompok potensi nantinya." tangan bu zahra masih membagikan kertas, ketika aku memegang kuisoner potensi.
Dalam kepalaku aku bertanya, kira-kira apakah ibu akan mengizinkan ? Segenggam kertas pun akhirnya kubawa pulang hari ini, berjalan menjinjing tas karung tepung terigu keluar dari pintu gerbang putih, dan menempatkan diriku disebelah halte bis tak jauh dari sekolah. Hari ini kembali papsi tidak bisa menjemputku pulang.
Lamunan membawaku terbang sambil menunggu bis yang melewati rumahku datang diperhentian ini. Sesaat kemudian sebuah mobil sedan hitam menghampiriku sembari membunyikan klakson, membuatku terbangun sejenak dan memandangi kedalam kaca yang gelap itu. Kaca mobil perlahan bergerak turun, dan sebuah dahi lebam biru membuatku mengenali siapa didalam. Betul saja, senyum segaris dan wajah putih.
"Rika, wah kamu dijemput ya?" kusapa perempuan manis didalam mobil sedan hitam.
"Aline mau ikut pulang ? nanti ku antar kerumahmu." Menawarkan ikut bersama ? Rumahku saja pasti tidak tahu.
"Ahh, tidak usah. Aku naik Bis saja. . ."aku ingin, tapi ibu selalu melarangku menumpang mobil orang lain.
"Apa kamu yakin ? Sepertinya tidak ada bis yang akan lewat jam-jam ini." ia masih menawariku untuk ikut serta.
Tepat sebelum ku bergerak menuju pintu mobil, sebuah bis 3/4 berhenti dibelakang mobil Rika, menurunkan beberapa orang, serta satu orang yang rasanya pernah kulihat.
Memicingkan mata, hanya agar aku tidak salah pernah menatap orang yang sama disebuah ruangan. Ahhh. . . !!! itu pemain biola di ruang musik, ia membawa sebuah plastik hitam, dari sini terlihat samar bentuk buku dan karton yang tergulung keluar dari plastik dikarenakan tingginya yang melebihi bungkus.
"Ahh, Rika ! aku ada yang tertinggal didalam. Kamu duluan saja, ya ?" bergegas ku ikuti sang laki-laki pemain biola itu, mengikutinya dari belakang. Ampuuun, kenapa sih para laki-laki memiliki langkah yang lebar, walau ia hanya berjalan, namun aku harus berlari kecil untuk mengikuti dia yang sekarang telah jauh didepan. Tak kuhiraukan apa Rika masih menunggu atau telah pergi, yang pasti aku tidak mau melepas pandangan mata ini dari laki-laki itu.
Ku ikuti ia dari kejauhan, yang sekarang telah tiba didepan Ruang Musik. Terlihat dari balik tembok kamar mandi ini, ia mencari sebuah kunci untuk membuka ruangan musik, dan masuk kedalam. Secara sembunyi, sembari mengendap, kulihat dari luar jendela. Memastikan apa yang dilakukan sang laki-laki itu didalam.
"Lhoo ? koq nggak ada ?" aku bingung, rasanya aku tadi melihat ia masuk kedalam. Kenapa tidak ada orang, ku pastikan agar aku tidak salah melihat. Kepalaku keluar dari bibir jendela dan membuka perlahan daun pintu coklat tua.
"Kemana orang tadi ?"kepalaku muncul dari daun pintu, memeriksa keadaan. Tapi aku tidak melihat sang laki-laki misterius itu didalam ruangan ini.
BUUUKKKHHH - aduh, kepalaku dipukul oleh sebuah benda lunak. Tidak sakit memang, tapi membuatku terkejut, kupalingkan kearah samping , dengan jantung yang berdegub tak menentu.
"Ngapain kamu disini ?" oowwh, suara lembut, paras tampan dengan rambut rapi, lebih mirip ferdi nuril, pemain ayat-ayat cinta Berdiri memegang gulungan karton.
aku yang masih berdegub, mencoba tersenyum. Walau kepanikan masih kurasa bergejolak
"Tidak apa kak, oh ya kak. Ini ruang apa yah ?" mencoba mencari topik pembicaraan yang kiranya bisa kukaitkan dengan orang ini.
"anak baru ya ?" kenapa sih, nada dingin itu menyambut aku yang masih berdegub ini.
"ia, koq kakak tahu sih ?" sekarang, kumunculkan diriku ditengah daun pintu yang terbuka.
"Coba aja ngaca sendiri . . .!" ia menariku masuk kedalam dan berdiri disebuah cermin yang tergantung disebelah pintu. Cermin itu berukuran tepat setinggi diriku, berdebu. Ya iya lah dia bisa tau aku anak baru. Pita dan dandananku ini adalah dandanan OSPEK.
"Mana ada senior yang memakain baju aneh kayak gitu." ia berbicara sembari membuka kotak biola, mengeluarkan lap berwarna orange, membersihkannya. Mengusap-usap biola bermotif batik indah itu.
"Kakak bermain biola ?" masih ku mencari topik pembicaraan yang berhubungan dengan orang misterius ini.
"Bukan, ini Ukulele !" ia pun memegangnya seperti hendak bermain gitar.
"Ihh, kakaknya ngelucu. Itu biola punya kakak ?" walau mendapat jawaban yang tidak tepat, aku masih berusaha untuk bersahabat dengan orang ini.
"kamu mau coba ?" ia pun berdiri dan menyodorkan biola itu.
"Ahh, aku tidak bisa kak." aku tahu, dalam keluarga kami tidak ada yang bisa bermain musik.
"Tiap orang punya melodi dalam diri mereka, bahkan hewan, tumbuhan, angin, hujan. . . adalah melodi yang membuat bumi ini berirama tiap harinya. Menghasilkan harmonisasi yang indah . . ." ia masih menyodorkan biola itu kearahku
"Aku tidak bisa, mungkin kakak bisa memainkan lagu dengan biola itu ? aku ingin dengar." ku ambil posisi mendekatinya, berdiri didekat kumpulan kursi yang tertumpuk.
Ia pun mengambil alat penggesek, kulihat ia memejam mata sejenak, menarik nafas dan membuka mata kembali sembari meletakan penggesek diatas empat senar. Dan lagi, siang itu. . . .saat kudengar ia mulai memainkan 'last carnival' udara seperti menjadi sejuk, dan teduhan awan menutupi sekolah ini yang tadinya bercuaca panas terik.
Tiap alunan melodi yang dimainkan, terlihat jemarinya seperti ikut berdansa dan tubuh ini tak terasa ikut terbawa oleh irama yang begitu sejuk. Ya Allah, indahnya. . . . Satu demi satu, ia mainkan nada dalam melodi 'last carnival' tanpa ada sedikitpun yang salah. Aku seperti bermain, dengan imajinasiku yang menari diatas rerumputan hijau dengan angin sejuk yang membelai rambut panjangku disana. Tak terasa, ia pun sampai pada bagian akhir permainannya. Kulihat sekilas, sebuah tetesan air jatuh dari pipi laki-laki tersebut. Dan akupun tak tahu, jika aku telah meneteskan air mata lebih banyak, dan hanya terdiam disini.
"Baaaggguuusss..."aku bertepuk dengan haru yang menyelimuti dadaku.
ia pun memasukan biola kedalam kotaknya, dan meletakan bungkusan kertas, karton, dan buku yang ia beli tadi kedalam sebuah lemari.
Kuhampiri ia yang masih berdiri didekat lemari, menarik bajunya dari belakang
"kakak, namaku aline. . . " dengan pipi yang masih basah oleh air mata, sedikit terisak ku memohon padanya
"Bisa ajarkan aku bermain biola ?"Ia berhenti meletakan kertas saat ku ucapkan kata itu. Ia pun berpaling
"Kenapa aku harus mengajarimu ?" nada dingin masih menjadi khasnya dalam bicara.
"Entah, ketika kakak memainkan biola. . . aku seperti lari kedunia lain. . .yang membuatku lebih bahagia disana"aku memang mengatakan sesuatu yang kurasa. Sejak kelas 2 SMP, aku selalu dihantui sebuah perasaan sedih, yang aku tidak pernah ingat apa itu.
|
0 Responses
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
