Melody 3 - The dusty violin

Lagi, pagi hari ini kumulai dengan ketukan dipintu kamar, nada orang bicara dibalik pintu itupun masih sama. Ibu kiranya selalu tidak pernah lelah untuk memulai hari lebih pagi dibandingkan papsi dan aku. Yah, itulah peran seorang ibu. Suatu haripun aku akan merasakannya.

Kubuka mata ini sembari meregangkan urat dan otot terpaut saat aku tidur dan masih kuingat kemarin, ketika kutatap jendela kamar bertirai hijau muda, saat kumulai hari baru sebagai seorang siswa SMA yang tengah beranjak belia dengan membuka kerai secara halus sambil menyapa sang surya. Hari pertama telah kulalui tanpa ada halangan.


"Terima Kasih ya Allah, engkau membukakan jalan termudah satu hari kemarin." aku regangkan tangan menyambut hangat cahaya matahari, dan kusiap pergi untuk membersihkan diri dan berdandan untuk berantakan.

Ku ambil handuk putih ditempat ibu biasa menjemur, sambil kulihat diruang tempat biasa kami semua makan, ibu tengah sibuk mempersiapkan sarapan pagi bersama bibi tilah, pembantu keluarga yang telah menjagaku sejak aku lahir.

Tak kuhiraukan kegiatan dua perempuan dewasa itu untuk saat ini, yang perlu kulakukan adalah mandi, dan bersiap menyambut hari kedua masa OSPEK. Kulihat pintu kamarmandi itu tertutup, kiranya ada seseorang yang mandi didalam. kucoba ketuk untuk mengetahui siapa orang dibalik itu

"Papsi ? apa papsi mandi ?"sembari kuketuk pintu yang terbuat dari bahan menyerupai plastik yang keras dan tentu saja tahan rusak dan pengintip. dan suara yang sudah kukenal menjawab dari baliknya

"yup, bentarrr !!"papsi memang orang yang ada didalam.

Tak lama setelah papsi menjawab, ia pun membuka pintu kamar mandinya dan kulihat papsi belum merapikan rambut, hanya sehelai handuk yang membalut pinggang hingga lutut. Sebenarnya aku sebagai seorang perempuan yang beranjak dewasa pun merasakan apa yang ibu selalu rasakan ketika melihat papsi seperti ini, kagum. Bagaimana seorang pria biasa seperti papsi bisa menjatuhkan hati banyak wanita, setidaknya itulah yang dikatakan ibu ketika kutanya tentang bagaimana bisa ia jatuh cinta pada pria konyol berkaca mata ini.

Ah, biarlah. Aku hanya butuh mandi saat ini.

"Ahh, papsi !" teringat aku akan sesuatu yang kuminta dari papsi pagi hari kemarin.

"Apa ?" papsi memalingkan wajahnya, dengan rambut yang masih berantakan.

"Donat. . .nya. . .manna ?" kutadahkan tangan, menagih satu kotak donat yang kuminta kemarin.

Senyum itu kembali yang kulihat, senyum maut yang meluluh lantakan hati ibu. Sembari mencolek hidung, papsi menjawab

"Kamu nggak liat dikulkas, hmm. . . putri tidur ?" sekarang wajah papsi lebih dekat untuk menjawab tanyaku. Tangannya yang kokoh kekar itu memegang pundak, membalikan badanku sembari melanjutkan

"Mandi dulu, dan donat akan siap di meja makan." dorongan itu berhasil membuatku masuk dan ketika kupalingkan wajah ku sejenak, kulihat papsi membungkuk layaknya seorang abdi kerajaan yang meminta izin untuk pergi dari hadapan sang ratu, atau setidaknya seorang putri, seperti aku. Akhirnya akupun mandi, selesai mandi nanti aku akan masuk kamarku dan berdandan untuk kegiatan hari ini.

Kuputar perlahan diriku yang telah berdandan ini, melihat adakah yang salah, tapi memang semuanya salah. Karena aku memakai pakaian yang tidak serasi satu sama lain, baik dari bagian kepala hingga kaki, layaknya hari kemarin. Kuperiksa ulang, isi tas karung terigu yang kupakai, memastikan tidak ada barang yang kurang atau tertinggal.

"yup, sudah lengkap semua. Waktunya beraksi" aku keluar kamar dengan mantap, dan aku siap menghadapi hari ini.

Kulihat dimeja makan, sudah duduk papsi yang siap dengan pakaian "kebesarannya", aku pun melihat kebawah meja dari tempatku berdiri, memastikan papsi tidak memakai celana piyama atau tidak memakai celana sama sekali. Ahh, sepertinya hari ini papsi tidak lupa memakai celana yang benar. Kutarik kursi makan, dan kulihat dua buah donat berlapis selai kacang dan coklat tabur dan segelas coklat panas tersaji dimeja tempatku makan.

"wahh, papsi. Makasih"tak lupa memang, kuucapkan terima kasih kepada papsi yang tidak lupa membelikan aku donat, dan yang terpenting papsi tidak lupa rasa apa yang paling aku suka. Dan sarapan pagi itu kembali dimulai dengan kebiasaan yang sama.

Papsi kembali mengantarku menuju sekolah, hari ini aku akan mengikuti kegiatan orientasi ekstra kurikuler yang dimiliki sekolah Harapan Bangsa. Namun hari ini, sepertinya jalan raya punya kejutan lain. Perjalanan kami teralirkan karena ada sebuah pohon yang dirampingkan, mengingat sebentar lagi musim angin kencang disertai hujan. Dan jalanan yang biasa kami lalui, memiliki banyak pohon rindang yang sebaiknya dipangkas.

Butuh waktu 52 menit setidaknya untuk sampai disekolah dengan pengalihan tadi. Tak sempat kuucapkan salam kepada papsi, kubuka pintu mobil avanza putihnya dan berlari masuk kedalam sekolah.

"BRRRAKKKK" sekejap aku tersungkur ke bawah, kukira aku menabrak sesuatu atau seseorang. . . .

kulihat apa yang kutabrak dan ternyata seorang pria bertubuh subur, berkemeja warna kuning dengan kumis menutup bibirnya. Ahh tidak, itu pak Wangsa Darmaji, kepala sekolah ini. Bergegas ku bangkitkan diriku sambil meminta maaf karena telah menabraknya.

"Lhoo, antum kan Nak Alin. Anaknya pak Brawijaya." Pria itu sepertinya masih bisa mengenaliku yang sekarang sedang berpenampilan kacau balau dengan atribut tak karuan disekujur badan.

"Ahh, maaf pak Wangsa. Saya terburu-buru tadi."dalam kondisi terduduk ini, aku harus bisa menjaga nama baik ayah dan ibu. Jadi kuputuskan untuk minta maaf duluan

"Tidak apa. . .ayo bapak bantu." Tangannya yang ber-volume itu menawarkan bantuan untukku berdiri.

"Lain kali, jalan saja. Tidak usah lari, pintu gerbang ditutup jam 7:15 wib kok. Yaa. . .nak Alin"

"Baik pak, sekali lagi maaf" Kusambut tangan pak Wangsa untuk segera berdiri dam mengibas rok biruku yang sekarang terdapat noda debu dibagian belakang.

"Ya sudah, kalo ada hal yang bisa bapak bantu, antum bisa menemui bapak diruang kepala sekolah" tangannya tak lagi menggenggamku, dan aku memohon diri untuk berkumpul dengan teman-teman dilapangan upacara.

Untunglah yang kutabrak tadi pak Wangsa, orang yang dekat dengan keluargaku. Pagi ini disekolah, dimulai dengan pembagian para siswa kelas X menjadi 2 kelompok besar untuk mengikuti "pemandu wisata EKSKUL HB" begitu tulisan yang bisa kubaca dari sebuah pin yang tersemat didada mereka. Masing-masing kelompok kami dipandu enam orang kakak kelas, empat diantaranya adalah tim kesehatan. Walau tiap-tiap ruang ekskul tidak terlalu jauh jaraknya, namun para panitia kiranya telah mempersiapkan kemungkinan terburuk.

"Baik adik-adik kelas X. Dengarkan, kita akan mulai perjalanan kita. Masing-masing dari kalian akan dibagi menjadi 2 kelompok besar. satu kelompok berjalan dari arah utara dan sisanya dari selatan." entah siapa perempuan yang bicara didepan menggunakan megaphone itu.

"Kelompok pertama, ikut saya dan sisanya bersama dengan Kak Akbar, yang berambut kribo disebelah sana." ia pun melanjutkan berbicara melalui megaphone.

"eeehhh. . . !" badanku bergerak kaget karena ada yang menyentuh pinggangku, siapa yah ??

"Aline. . . " dari belakang kudengar suara pelan, oh itu Rika.

"Hei, sini !" kutarik tangan Rika, untuk bisa berdiri tepat disampingku.

"Sudah, kita jadi satu kelompok aja." kulihat anggukan kecil dikepala Rika menandakan ia setuju untuk satu kelompok perjalanan Wisata Ekskul hari ini.

Dan kami memulai perjalanannya. Kelompok ini berjalan dari arah selatan, mengelilingi sekolah menuju utara. Ruangan pertama yang kami kunjungi adalah Ruangan OSIS. Disana kami disambut oleh para pengurus, yaaa tentu kalian semua sudah tahu, ada ketua, wakil ketua dan sebagainya. Mereka semua memperkenalkan diri, mulai dari seorang ketua yang bertubuh tambun dengan lesung pipi dan rambut disisir menyamping, Dhani Hermawan. Dilanjutkan dengan Wakil Ketua, pria berkulit sawo matang dengan rambut belah tengah, hampir mirip salah satu vokalis band yang digawangi tiga orang, sekarang band itu telah bubar. Johan Ahmad namanya.

Kami semua mendengarkan satu persatu nama mereka, sekretaris yang kubilang lebih mirip biduan dangdut dengan dandanan menor, Nita dan satu lagi bendahara, seorang perempuan berambut panjang dengan pandangan dingin serta sinis, Meylita.

"Selamat datang diruang OSIS teman-teman. . . "Sang ketua OSIS, Dhani menyapa kami semua

"Disini merupakan jantung kegiatan untuk semua siswa. Kita punya beberapa bidang yang mungkin teman-teman akan suka untuk menjadi bagiannya . . ." ahh, aku tak menghiraukan pembicaraan sang ketua OSIS, walau dia menawarkanku satu kotak coklatpun, ibu pasti tidak akan mengizinkan aku mengikuti kegiatan EKSKUL yang menyita waktu

"Belajar saja yang rajin ya cantik, jangan ikut kegiatan yang tidak berguna!" sekilas, kuteringat kembali perkataan ibu yang melarangku ketika kusodorkan formulir keanggotaan Unit Kesehatan Sekolah saat SMP.

"Aline . . " hmm, ku tersadar dari lamunanku karena Rika memberikan sebuah buletin, yang lama kelamaan, aku tahu bahwa itu adalah buletin internal yang dibuat oleh para pengurus OSIS, bekerja sama dengan pengurus mading sekolah.

"Oke, kita lanjut lagi adik-adik. Lewat sini. . .lewat sini. . .awas kejebur. . !" sedikit-sedikit kami menertawakan bahasa yang dimiliki oleh sang pemandu kribo kami.

Perjalanan dilanjutkan, sekarang kami memutari tiga buah kelas, menuju sebuah ruangan. Dari luar jendelanya yang berdebu kulihat banyak alat musik, sebuah piano yamaha tua didepan kelas dan stand musik didepan tiap kursi. Karena aku dan Rika berada ditengah barisan, dari tempatku berdiri, aku hanya melihat sebuah papan diatas reng pintu bertuliskan "Melodia". Kami hanya melewatinya, karena ruangan yang kami tuju adalah ruang Marcing Band, tepat disebelah ruangan ini.

Aku yang penasaran, mencoba keluar dari barisan dan melihat dari luar jendela, menyapu pandangan kesegala penjuru ruangan, dan disebuah kursi tepat dibaris ke-3, cahaya matahari pagi menyinari sebuah kotak alat musik. Lebih mirip seperti kotak gitar. Kulihat sepertinya teman-teman masih lama mendengarkan ceramah dari pimpinan marcing, jadi kuputuskan untuk mencoba membuka pintu ruangan ini yang ternyata tidak dikunci.

Rasa penasaranku hanya ingin melihat ruangan apa ini, dari pintu masuk, aku bisa melihat papan partitur, dan sebuah tulisan diatasnya

"Melody adalah harmoni, ia mengatur kehidupan." sebuah kata yang indah. Kusapu pandanganku kepenjuru lain dan terhenti dikotak alat musik yang menyerupai bentuk gitar, hanya lebih kecil.

Hati kecil ini memintaku membukanya, ketika kulihat, ternyata itu adalah biola berwarna coklat tua dengan hiasan batik menyerupai bentuk parang dibagian sisinya berwarna hitam. Dan sebuah alat penggesek dengan pita warna hijau lusuh menjadi pemanis. Kupegang sejenak biola itu, yang nampaknya sedikit dimakan rayap atau terlalu lama tidak dibersihkan, hingga banyak debu dipermukaannya.

"Aline . . ." kudengar Rika memanggilku dari pintu.

"Sedang apa ?" ia melanjutkan sembari mendekatiku kedalam.

"Lihat, indah bukan ?"kutunjukan biola itu kepada Rika.

"ehhmm. . .indah. Cuma saja terlihat tua." Rika pun sepertinya tahu, bahwa biola itu tidak pernah dibersihkan. Belum lama kami berdiskusi tentang ruangan ini dan seisinya

"Haaayyyyoooo. . . .!!!" seorang laki-laki dari tim kesehatan memukul pintu dan membuat kami terkaget.

"Tur akan dilanjutkan, dan nggak boleh ada yang ketinggalan." ia meminta kami keluar dari ruangan itu dengan isyarat tangan yang menarik kami seperti patung kucing hokki. Kuletakan kembali biola itu didalam kotak.

Jika masa orientasi ini telah selesai, aku ingin kembali ke ruangan ini. Mencari tahu siapa pemilik biola indah nan berdebu tadi. Kami berdua berjalan keluar dari ruangan, dan sang kakak tadi menutup pintu. Sambil menunggu saat kukembali,

"Kak, ini ruangan apa ?" ahh, sepertinya Rika memiliki pertanyaan yang sama dengan isi kepalaku.

"Itu ruangan musik. Kalian akan belajar seni musik disemester Dua. Tapi sekarang, kalian harus belajar tidak mengendap-endap saat sedang tur." ia pun membalikan badan kami dan mendorong masuk kedalam barisan.

Pandanganku masih belum bisa lepas dari ruangan yang pintunya sekarang tertutup.

"Rika, kamu mau coba kesitu lagi nanti ?"mataku masih belum memalingkan pandangan dari ruangan musik,

"emmm, ya aku mau." Rika kembali lagi memiliki jawaban yang sama dengan isi kepalaku. Kamipun diberikan selembar kertas berbentuk bulat, seperti buletin yang sama diberikan di ruang OSIS tadi. Isinya kurang lebih menjelaskan apa itu marching band SMA Harapan Bangsa dan tawaran untuk mengisi beberapa posisi di barisan.

"Kita lanjut, ke ruangan ESKUL lainnya. Selanjutnya . . . jeng. . .jeng. . ." dengan gaya yang aneh, kembali Kak Akbar membuat kami tertawa dengan tingkah lakunya. Yah, itulah hari kedua kami. Diisi dengan guyonan garing sang pemandu wisata.

0 Responses